Pemeriksaan makroskopis untuk membedakan cacing pita Taenia solium dan Taenia saginata dewasa sangat penting, terutama karena telurnya tidak dapat dibedakan secara morfologis melalui mikroskop.
Fokus utama dalam identifikasi makroskopis ini terletak pada pengamatan struktur skoleks (kepala) dan perhitungan jumlah cabang utama uterus pada proglotid gravid (segmen matang).
Berikut adalah perbedaan karakteristik makroskopis dari kedua spesies tersebut:
1. Taenia solium (Cacing Pita Babi)
- Ukuran dan Strobila (badan utuh cacing): Cacing dewasa memiliki panjang 2 hingga 5 meter (maksimal mencapai 7 meter). Untaian badannya terdiri dari 700 hingga 1.000 proglotid.
- Skoleks (Kepala): Berbentuk bulat persegi empat (globuler) dengan diameter sekitar 0,6–1,0 mm. Skoleks ini dilengkapi dengan 4 batil isap (suckers) dan sebuah rostelum (tonjolan kepala) yang memiliki dua deret kait berjumlah 22 hingga 32 buah..
- Proglotid Matur dan Gravid: Segmen matangnya (matur) memiliki ovarium yang terdiri dari 3 lobus. Pada proglotid gravid, percabangan utama uterus lateralnya lebih sedikit, yaitu berjumlah 7 hingga 16 cabang di setiap sisinya (rata-rata kurang dari 13 cabang).
- Karakteristik Ekskresi: Proglotid T. solium umumnya dikeluarkan dari tubuh inang secara pasif bersama dengan tinja, sering kali terlepas dalam bentuk rantai yang berisi 5 hingga 6 segmen sekaligus
2. Taenia saginata (Cacing Pita Sapi)
- Ukuran dan Strobila: Ukuran cacing ini jauh lebih panjang, yaitu berkisar antara 4 hingga 12 meter (dapat tumbuh mencapai 25 meter. Strobilanya terdiri dari 1.000 hingga 2.000 proglotid
- Skoleks (Kepala): Berbentuk menyerupai buah pir (piriform) dengan ukuran lebih besar, berdiameter 1,5 hingga 2,0 mm. Memiliki 4 batil isap, namun sama sekali tidak memiliki rostelum maupun kait
- Proglotid Matur dan Gravid: Segmen matangnya memiliki ovarium dengan 2 lobus dan dilengkapi sfingter (otot katup) vagina. Pada proglotid gravid, percabangan utama uterus lateralnya jauh lebih banyak, yaitu berjumlah 14 hingga 32 cabang pada setiap sisinya
- Karakteristik Ekskresi: Proglotid gravid T. saginata dapat bergerak secara aktif (motil). Segmen ini sering bermigrasi keluar dari anus satu per satu secara mandiri
Teknik Pemeriksaan Proglotid
Pengamatan jumlah cabang uterus kadang sulit dilakukan secara langsung pada proglotid gravid utuh. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk memperjelas cabang uterus:
- Injeksi Pewarna: Proglotid yang telah difiksasi dibersihkan (misalnya dengan laktofenol dan asam laktat) lalu dijepit di antara dua kaca objek. Menggunakan jarum suntik berukuran kecil (25 atau 27 g), tinta India (Indian ink) atau pewarna karmin disuntikkan secara perlahan ke dalam porus genitalis. Tinta akan mengalir mengisi batang rahim hingga ke cabang utamanya sehingga mudah dihitung
- Pewarnaan Histologis (Hematoksilin-Eosin): Proglotid gravid utuh difiksasi dengan formalin, dipotong membujur, dan diwarnai dengan Hematoksilin-Eosin (HE). Cabang-cabang rahim kemudian dapat dihitung di bawah mikroskop, yang memberikan identifikasi yang sangat akurat dan dapat diandalkan
Daftar Pustaka
- Beaver P.C., Jung R.C. & Cupp E.W. (1984). Clinical Parasitology, 9th Edition. Lea & Febiger, Philadelphia
- Dosen Teknologi Laboratorium Medik. (2020). Parasitologi Teknologi Laboratorium Medik. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
- Garcia L.S. (2001). Diagnostic Medical Parasitology, 4th Edition. ASM Press, Washington, D.C
- Garcia L.S. & Bruckner D.A. (1996). Diagnostik Parasitologi Kedokteran, Cetakan I (Terj. dr. Leshmana Padmasutra). Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
- Markell E.K., Voge M. & John D.T. (1986). Medical Parasitology, 6th Edition. W.B. Saunders Co., Philadelphia
- Neva F.A. & Brown H.W. (1994). Basic Clinical Parasitology, 6th Edition. Prentice-Hall International Inc., London
- Ompusunggu S.M. (2018). Pedoman Pemeriksaan Parasit (Feses, Darah, Cairan Tubuh dan Jaringan). Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
- Paniker C.J. (2018). Paniker’s Textbook of Medical Parasitology, 8th ed. Jaypee Brothers Medical Publishers, New Delhi
- Soedarto. (2011). Buku Ajar Helminthologi Kedokteran. Airlangga University Press, Surabaya
- Soedarto. (2016). Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Sagung Seto, Jakarta
- Strickland G.T. (1991). Hunter’s Tropical Medicine, 7th Edition. W.B. Saunders Co., Philadelphia
- World Health Organization (WHO). (1983). Guidelines for the Surveillance, Prevention and Control of Taeniasis/Cysticercosis. VPH 83/49, Geneva
- World Health Organization (WHO). (2019). Bench aids for the diagnosis of intestinal parasites, 2nd ed. Geneva
- Allan J.C., et al. (1992). Coproantigen detection for immunodiagnosis of echinococcosis and taeniasis in dogs and humans. Parasitology, 104: 347–355
- Allan J.C., et al. (1996). Field trial of the coproantigen-based diagnosis of Taenia solium taeniasis by enzyme-linked immunosorbent assay. Am. J. Trop. Med. Hyg, 54: 352-356
- Chapman A., et al. (1995). Isolation and characterization of species-specific DNA probes from Taenia solium and Taenia saginata and their use in egg detection assay. J Clin Microbiol, 33: 1283–1288
- Flisser A., et al. (1988). Specific detection of Taenia saginata eggs by DNA hybridization. Lancet, 286: 1429-1430
- Flisser A. (1994). Taeniasis and cysticercosis due to Taenia solium. In Progress in clinical parasitology, 4: 77-116
- Harrison L.J.S., Delgado J. & Parkhouse R.M.E. (1990). Differential diagnosis of Taenia saginata and Taenia solium with DNA probes. Parasitology, 100: 459-461
- Le Rechie P.D. & Sewell M.M.H. (1977). Differentiation of Taenia saginata and Taenia solium by enzyme electrophoresis. Trans R Soc Trop Med Hyg, 71: 327-328
- Mayta H., et al. (2000). Differentiating Taenia solium and Taenia saginata infections by simple hematoxylin-eosin staining and PCR-restriction enzyme analysis. J. Clin. Microb, 38: 133-137

Posting Komentar